SIAPKAH UNTUK BERKARIR DI RUMAH?

 Ada yang bilang, pencapaian terbesar seorang wanita adalah ketika ia memilih berkarir di rumah atau menjadi ibu rumah tangga.
Tapi ketika saya disodorkan pada pilihan tersebut, apakah siap untuk menjalaninya? Apa hal pertama yang dibayangkan ketika akhirnya memutuskan menjadi seorang ibu rumah tangga? Apakah nantinya akan bahagia atau menyesal dengan pilihan tersebut?



 Saya memilih berkarir di rumah pada awalnya karena setelah menikah, ingin konsentrasi untuk memperoleh momongan. Tapi ketika saya keguguran dan selang beberapa waktu belum juga ada tanda-tanda kehamilan, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja lagi. 

 Setelah bekerja di kantor selama beberapa bulan, saya hamil dan kemudian memutuskan untuk berhenti bekerja agar fokus mengurus kehamilan Hanya sekitar setahun, ternyata saya tidak betah hanya menjadi ibu rumah tangga, saya pun bekerja lagi tapi akhirnya kembali resign karena perusahaan mengalami masalah keuangan. Saat itu ditawari untuk pindah ke perusahaan lain, tapi akhirnya saya tolak karena lebih memilih untuk fokus menemani si kecil yang baru berusia 2 tahun.

 Pada awalnya menjadi ibu rumah tangga itu sangat menyenangkan, apalagi bisa terus dekat dengan keluarga dan mengawal setiap tahap perkembangan anak. Namun ada saatnya saya dihinggapi perasaan bosan dan jenuh karena rutinitas yang sama terulang setiap harinya. 

 Alhamdulillah, saat ini saya tetap pada pilihan saya untuk berkarir di rumah sebagai seorang ibu rumah tangga, meski dengan segala drama yang terjadi di dalamnya. Bukan hal mudah karena ada masa-masa dimana saya mempertanyakan kembali keputusan yang saya buat. Tapi kemudian saya bertahan karena yakin bahwa ini adalah salah satu pilihan yang terbaik yang pernah saya buat. 

 Nah, berdasarkan pengalaman, pengamatan dan hasil curhat, hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk berkarir di rumah, antara lain : 

 1. Siapkan Mental 
    Menjadi ibu rumah tangga mesti siap dengan hal-hal yang mungkin kurang nyaman, salah satu  contoh adalah ketika orang tua kurang setuju dengan pilihan yg saya ambil karena beliau menyayangkan seseorang sarjana hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Alhamdulillah karena saya sudah menyiapkan mental sebelumnya, sayapun bisa lebih santai menghadapi. 

 2. Benahi Mindset
   Miliki mindset positif tentang ibu tumah tangga, sehingga tidak mudah merasa sedih atau tidak berdaya ketika menerima tanggapan yang tidak diharapkan. 

3. Mengenali Diri Sendiri 
  Bekerja dari rumah bukan berarti melupakan passion kita, apa yang membuat kita bahagia, bagaimana pola manajemen waktu yg sesuai dengan kepribadian kita. Contohnya tetap melakukan hal-hal yang saya sukai seperti belajar tentang hal-hal baru, bertemu dan sharing pengalaman dengan orang - orang serta kegiatan lainnya untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. 

4. Manajemen Waktu 
  Manajemen waktu sangat diperlukan agar waktu 24 jam bisa kita maksimalkan dengan sebaik-baiknya, bukan hanya menghabiskan waktu untuk pekerjaan rumah tangga tapi juga mengatur waktu untuk bersosialisasi, waktu untuk diri sendiri dan sebagainya. Salah satu cara yang saya gunakan adalah kandang waktu, yaitu mengelompokkan kegiatan-kegiatan di daerah dapur, keluarga, dan mengembangkan diri 

5. Mengembangkan Diri 
  Jangan lupa untuk tetap belajar dan mengembangkan minat yang kita miliki. Terlebih dengan adanya teknologi, kita lebih mudah untuk mengeksplorasi berbagai macam pengetahuan melalui belajar online, dsb. 

6. Memelihara Rasa Syukur 
Yang terakhir, jangan lupa menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil agar rasa syukur tetap terjaga, bila perlu buat buku jurnal syukur yang bisa diisi tiap hari. 

 Menjalankan peran yang dipilih dengan bahagia adalah bukti bahwa kita memilih untuk bertanggung jawab pada peran sudah yang diberikan oleh Allah SWT. 

Semoga tulisan ini bisa membantu yang masih galau untuk memulai berkarir di rumah.\

Jadi siapkah kita untuk berkarir di rumah ?

Komentar

Postingan Populer